Masjid Raya Baiturrahman
Warisan Islam Aceh

Warisan Sejarah di Serambi Mekkah

Masjid Raya Baiturrahman merupakan salah satu simbol penting sejarah dan kebudayaan Aceh. Dibangun pada abad ke-19, masjid ini telah menjadi saksi bisu perjuangan rakyat Aceh serta

Informasi Masjid
Tahun Dibangun 1871
Gaya Arsitektur Mughal Aceh
Lokasi Kota Banda Aceh
Status Fisik Cagar Budaya Nasional
"
Masjid Raya Baiturrahman bukan sekadar bangunan batu dan kubah. Ia adalah detak jantung spiritual, benteng pertahanan para syuhada, dan saksi bisu air mata serta kejayaan peradaban Islam

Simbol Kekuatan Rakyat Aceh

Sejarah Singkat Masjid Raya Baiturrahman

Masjid Raya Baiturrahman adalah masjid agung yang menjadi simbol spiritual dan identitas masyarakat Aceh. Berdiri megah di pusat kota Banda Aceh, masjid ini memiliki sejarah panjang yang kaya akan nilai keimanan, perjuangan, dan ketangguhan.

Didirikan pertama kali pada masa Kesultanan Aceh Darussalam oleh Sultan Iskandar Muda (1607-1636) sebagai pusat ibadah dan pendidikan Islam. Masjid ini beberapa kali mengalami pemugaran, terutama setelah hancur akibat agresi militer Belanda tahun 1874.

Bentuk fisik masjid seperti sekarang adalah hasil pembangunan ulang yang dimulai tahun 1879 atas perintah Sultan Muhammad Daudsyah dengan arsitek Italia, dan diresmikan tahun 1881. Masjid kemudian diperluas dan direnovasi besar-besaran tahun 1990-an dengan bantuan pemerintah Indonesia dan masyarakat.

Pada 26 Desember 2004, saat tsunami melanda Aceh, masjid ini menjadi satu-satunya bangunan besar yang tetap berdiri di tengah reruntuhan kota. Fenomena ini dikenal sebagai "Keajaiban Baiturrahman" dan menjadi simbol harapan serta kebangkitan masyarakat Aceh.

Garis Waktu Sejarah

Menelusuri Perjalanan Sejarah yang Berharga

1612

Pembangunan Awal

Sultan Iskandar Muda membangun masjid pertama kali sebagai pusat ibadah Kesultanan Aceh.

1874

Penghancuran oleh Belanda

Masjid hancur akibat serangan militer Belanda dalam Perang Aceh. Sisa-sisa reruntuhan tetap dijaga.

1879-1881

Pembangunan Ulang

Sultan Muhammad Daudsyah membangun ulang masjid dengan arsitek Italia. Diresmikan tahun 1881.

1930

Perluasan Pertama

Masjid diperluas untuk menampung jamaah yang terus bertambah.

1960

Renovasi Modern

Renovasi besar-besaran dengan menambahkan kubah dan menara.

1990-1991

Renovasi Besar

Pemerintah Indonesia merenovasi masjid secara menyeluruh dengan biaya Rp. 80 Miliar.

2004

Tsunami Aceh

26 Desember 2004, masjid tetap berdiri kokoh di tengah kehancuran kota Banda Aceh. Disebut "Keajaiban Baiturrahman".

Galeri Sejarah

Potret Baiturrahman dari Masa ke Masa