Warisan Sejarah di Serambi Mekkah
Masjid Raya Baiturrahman merupakan salah satu simbol penting sejarah dan kebudayaan Aceh. Dibangun pada abad ke-19, masjid ini telah menjadi saksi bisu perjuangan rakyat Aceh serta
Masjid Raya Baiturrahman bukan sekadar bangunan batu dan kubah. Ia adalah detak jantung spiritual, benteng pertahanan para syuhada, dan saksi bisu air mata serta kejayaan peradaban Islam
Simbol Kekuatan Rakyat Aceh
Sejarah Singkat Masjid Raya Baiturrahman
Masjid Raya Baiturrahman adalah masjid agung yang menjadi simbol spiritual dan identitas masyarakat Aceh. Berdiri megah di pusat kota Banda Aceh, masjid ini memiliki sejarah panjang yang kaya akan nilai keimanan, perjuangan, dan ketangguhan.
Didirikan pertama kali pada masa Kesultanan Aceh Darussalam oleh Sultan Iskandar Muda (1607-1636) sebagai pusat ibadah dan pendidikan Islam. Masjid ini beberapa kali mengalami pemugaran, terutama setelah hancur akibat agresi militer Belanda tahun 1874.
Bentuk fisik masjid seperti sekarang adalah hasil pembangunan ulang yang dimulai tahun 1879 atas perintah Sultan Muhammad Daudsyah dengan arsitek Italia, dan diresmikan tahun 1881. Masjid kemudian diperluas dan direnovasi besar-besaran tahun 1990-an dengan bantuan pemerintah Indonesia dan masyarakat.
Pada 26 Desember 2004, saat tsunami melanda Aceh, masjid ini menjadi satu-satunya bangunan besar yang tetap berdiri di tengah reruntuhan kota. Fenomena ini dikenal sebagai "Keajaiban Baiturrahman" dan menjadi simbol harapan serta kebangkitan masyarakat Aceh.
Menelusuri Perjalanan Sejarah yang Berharga
Pembangunan Awal
Sultan Iskandar Muda membangun masjid pertama kali sebagai pusat ibadah Kesultanan Aceh.
Penghancuran oleh Belanda
Masjid hancur akibat serangan militer Belanda dalam Perang Aceh. Sisa-sisa reruntuhan tetap dijaga.
Pembangunan Ulang
Sultan Muhammad Daudsyah membangun ulang masjid dengan arsitek Italia. Diresmikan tahun 1881.
Perluasan Pertama
Masjid diperluas untuk menampung jamaah yang terus bertambah.
Renovasi Modern
Renovasi besar-besaran dengan menambahkan kubah dan menara.
Renovasi Besar
Pemerintah Indonesia merenovasi masjid secara menyeluruh dengan biaya Rp. 80 Miliar.
Tsunami Aceh
26 Desember 2004, masjid tetap berdiri kokoh di tengah kehancuran kota Banda Aceh. Disebut "Keajaiban Baiturrahman".