Lebih dari empat abad perjalanan sejarah yang menghubungkan kejayaan Kesultanan Aceh, perjuangan rakyat melawan kolonialisme, hingga kebangkitan ajaib pasca tsunami dahsyat.
Masjid Raya Baiturrahman bukan sekadar bangunan batu dan kubah. Ia adalah detak jantung spiritual, benteng pertahanan para syuhada, dan saksi bisu air mata serta kejayaan peradaban Islam di Aceh.
Simbol Kekuatan Rakyat Aceh
Berdiri megah di jantung daerah berjuluk Serambi Mekkah, kompleks megah ini merangkum narasi panjang perlawanan terhadap kolonialisme Belanda, keajaiban spiritual yang memperkokoh iman saat bencana gempa dan tsunami 2004 melanda, hingga kemajuan zaman di era global saat ini.
Dibuat pertama kali oleh Sultan Iskandar Muda dari Kerajaan Aceh Darussalam. Masjid ini segera berkembang menjadi pusat administrasi kerajaan, benteng pertahanan spiritual, serta universitas pendidikan Islam internasional yang dikunjungi ulama dari Arab, Persia, India, dan Nusantara.
Di tengah agresi militer Belanda pertama di Aceh, bangunan kayu utama masjid dibakar habis untuk meredam moral pejuang. Peristiwa ini memicu kemarahan dahsyat dan perlawanan gerilya rakyat Aceh. Di pekarangan inilah Jenderal Belanda J.H.R. Kohler tewas tertembak oleh penembak jitu Aceh.
Sebagai upaya rekonsiliasi dan meredakan ketegangan rakyat Aceh, Gubernur Jenderal Van Lansberge mendirikan kembali masjid baru dengan meletakkan batu pertama. Dirancang oleh arsitek Belanda Gerrit Bruins dengan mengadopsi gaya arsitektur Indo-Saracenic (Mughal-Moors).
Seiring pertambahan jamaah, perluasan berkala dilakukan. Kubah masjid bertambah dari 1 kubah menjadi 3 kubah pada tahun 1935, kemudian berkembang menjadi 5 kubah pada 1957. Akhirnya diperluas secara besar-besaran pada 1991 menjadi 7 kubah dengan tambahan 5 menara utama yang megah.
Gempa bumi berkekuatan 9,1 SR memicu gelombang tsunami raksasa yang menyapu pesisir Aceh. Di kala seisi kota Banda Aceh luluh lantak dilanda amukan air bah, Masjid Raya Baiturrahman kokoh berdiri sebagai perlindungan fisik dan rohani bagi ribuan nyawa warga yang berlindung di dalamnya.
Daya guncang gempa terdahsyat abad ke-21.
Ribuan jiwa berlindung dengan selamat di dalam masjid.
Sebuah tugu penanda di halaman masjid yang menjadi saksi bisu tempat robohnya Mayor Jenderal J.H.R. Kohler pada ekspedisi militer Belanda pertama di Aceh tahun 1873.
Kubah kayu sirap berwarna hitam pekat dilapisi aspal yang khas, memberikan kontras luar biasa dengan dinding pualam putih bersih dari masjid ini.
Menara setinggi 85 meter di pekarangan utama, melambangkan kumandang gema tauhid, sekaligus menjadi titik pemandangan kota Banda Aceh yang ikonik.
Transformasi pekarangan dengan memasang 12 payung elektrik raksasa menyulap suasana masjid menyerupai kompleks Masjid Nabawi di Madinah, menyejukkan jamaah dan mengundang jutaan wisatawan religi.
Menyediakan keteduhan bagi ribuan jamaah pelataran di kala terik matahari, menutup otomatis kala senja dan hujan turun.
Lantai luar dilapisi marmer pilihan kualitas tinggi, memberikan permukaan sejuk berkilau yang nyaman dipijak untuk shalat pelataran.
Fasilitas ruang parkir bawah tanah berkapasitas ratusan mobil dan sepeda motor demi menjaga estetika dan kenyamanan pekarangan atas.
Tempat berwudhu pria dan wanita berkelas internasional di basement bawah tanah yang bersih, sejuk, dan teratur.
Pencahayaan LED tematis canggih yang menerangi kubah-kubah dan menara kala malam, memberikan pemandangan dramatis berwibawa.
Kawasan terpadu ramah lingkungan yang ramah bagi wisatawan nusantara maupun mancanegara untuk menikmati peradaban Islam.
Geser garis kuning pada gambar di bawah untuk melihat transformasi menakjubkan wajah Baiturrahman dari era vintage abad ke-19 hingga era modern digital.
Menggambarkan bentuk awal masjid pada era keemasan Kesultanan Aceh Darussalam abad ke-17.
Monumen tempat gugurnya Mayor Jenderal J.H.R. Kohler pada pertempuran sengit 1873.
Struktur pertama yang dibangun Belanda pasca-pembakaran, dengan kubah tunggal bergaya Mughal.
Masjid tetap utuh berdiri tegak di tengah reruntuhan gempa dan sapuan gelombang besar di pusat kota Banda Aceh.
Lansekap modernisasi pekarangan luar dengan pemasangan payung otomatis setara Madinah.
Sinar iluminasi lampu LED menyorot keagungan lengkung kubah hitam sugar-stone saat malam tiba.